Penyakit karena virus yang menyerang manusia, antara lain:
![]() 1. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom) Penyakit ini disebabkan oleh HIV (Human Immuno-deficiency Virus) yang menyerang kekebalan tubuh. Virus ini menular melalui kontak cairan, antara lain aktivitas hubungan seksual, pemakaian jarum suntik bekas penderita HIV, dan wanita penderita HiV yang sedang mengandung janin. 2. Polio Virus masuk ke tubuh melalui makanan dan udara. Selanjutnya masuk ke kelenjar getah bening, menembus peredaran darah, menuju sumsum tulang belakang, otak dan merusak sel-sel saraf (neuron). 3. Hepatitis Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis A, hepatitis B, non A, dan non B. 4. Influenza Penyakit ini ditularkan oleh virus influenza melalui udara, menyerang saluran pernapasan, akibatnya penderita mengalami kesulitan bernapas. 5. Campak (Morbili) Penyakit ini disebabkan oleh morbivirus. Virus me¬nyerang bagian kulit, akibatnya pada kulit muncul bercak-bercak merah disertai rasa gatal. 6. Rabies Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan hewan yang sudah terkena rabies, antara lain: anjing, kucing, dan kera. Virus kemudian menyerang sistem saraf yang menyebabkan pende¬rita mengalami gangguan saraf. Vaksin rabies ditemukan oleh Louis Pasteur. 7. Herpes Penyakit ini disebabkan oleh herpesvirus. Gejalanya akan muncul bintik bernanah yang membahayakan pada kulit, mata, mulut, dan alat kelamin. 8. Kanker (tumor ganas) Penyakit ini disebabkan oleh virus onkogen. Virus ini, menyebabkan sel pada tubuh bagian tertentu mengalami pembeiahan tanpa terkendali, sehingga pada penderita stadium lanjut bagian tubuh tertentu yang terkena kanker akan membentuk benjolan yang semakin membesar. 9. Demam Ebola Penyakit ini disebabkan oleh virus ebola yang meng-akibatkan pendarahan pada seluruh tubuh. Gejala penyakit ini adalah demam tinggi, muntah-muntah, mencret, nyeri pada dada, kepala, dan otot. Masa inkubasi penyakit 2-21 hari. Penyakit yang disebabkan oleh virus dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin adalah bibit penyakit yang telah dilumpuhkan dan dikemas dalam cairan, kemudian disuntikkan. Vaksin akan menstimulai tubuh membentuk antibodi. Serum adalah darah manusia yang mengandung antibodi penyakit. Misal penderita campak akan diberi serum campak. Sehingga kekebalan pada penderita akan terbentuk dan dinamakan kekebalan pasif. Referensi Buku Kantong Biologi SMA, Oleh Nuri Handayani, S.Si | |
Kamis, 26 Januari 2012
9 PENYAKIT AKIBAT VIRUS
KENALI INFEKSI KEPUTIHAN PATOLOGIS
Keputihan Patologis, merupakan
keputihan yang tidak normal yang terjadi karena infeksi pada vagina,
adanya benda asing pada vagina atau karena keganasan. Infeksi bisa
sebagai akibat dari virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel satu Trichomonas vaginalis.
Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti
iritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual,
penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi. Infeksi virus, bakteri, dan
parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual.
Keputihan ini berupa cairan
berwarna kekuningan hingga kehijauan, jumlahnya banyak bahkan bisa
sampai keluar dari celana dalam, kental, lengket, berbau tidak sedap
atau busuk, terasa sangat gatal atau panas, dan menimbulkan luka di
daerah mulut vagina. Keputihan jenis ini harus diwaspadai
mengingat dapat menjadi salah satu indikasi gejala adanya kanker leher
rahim. Oleh karena itu, keputihan patologis harus dicari penyebabnya dan
diobati secara adekuat sejak dini.
Banyak sekali hal – hal yang dapat
menyebabkan keputihan patologis, tapi umumnya disebabkan oleh infeksi
saluran reproduksi. Infeksi tersebut dapat berasal dari :
a. Jamur Candida atau Monilia
Keputihan akibat jamur ini akan berwarna
putih susu, kental, berbau agak keras, disertai rasa gatal yang dominan
pada vagina. Akibatnya, mulut vagina menjadi kemerahan dan meradang.
Keputihan ini biasanya dipicu oleh kehamilan, penyakit kencing manis,
pemakaian pil KB, dan rendahnya daya tahan tubuh. Bayi yang baru lahir
juga bisa tertular keputihan akibat jamur Candida ini karena tanpa
sengaja tertelan cairan ibunya yang adalah penderita saat persalinan.
b. Parasit Trichomonas Vaginalis
Ditularkan terutama lewat hubungan seks
sehingga termasuk salah satu dalam Penyakit Menular Seksual (PMS), namun
selain hal itu juga dapat lewat perlengkapan mandi, atau bibir kloset
yang telah terkontaminasi. Cairan keputihan sangat kental, berbuih,
berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan karena
parasit ini tidak menyebabkan gatal, tapi nyeri bila liang vagina
ditekan.
c. Bakteri Gardnella
Sebagian
besar wanita yang mengalami infeksi vagina bakterial tanpa gejala –
gejala berarti disebabkan oleh bakteri ini. Keputihan biasanya encer,
berwarna putih keabu-abuan, berair, berbuih, dan berbau amis (fishy odor).
Bau akan lebih menusuk setelah melakukan hubungan seksual dan
menyebabkan darah menstruasi berbau tidak enak. Jika ditemukan iritasi
daerah vagina seperti gatal biasanya bersifat lebih ringan daripada
keputihan yang disebabkan oleh Candida albicans atau Trichomonas vaginalis.
d. Virus
Keputihan akibat infeksi virus juga sering ditimbulkan penyakit kelamin seperti condyloma, herpes, HIV/AIDS. Condyloma
ditandai tumbuhnya kutil-kutil yang sangat banyak disertai cairan
berbau. Penyakit ini sering menjangkiti wanita hamil. Sedangkan virus
herpes ditularkan lewat hubungan badan. Gejalanya seperti luka melepuh,
terdapat di sekeliling liang vagina, mengeluarkan cairan gatal, dan
terasa panas. Perlu diwaspadai karena keputihan akibat virus karena
virus yang menginfeksi dapat menjadi salah satu faktor pemicu kanker
rahim.
Keputihan akibat infeksi yang dibiarkan
tidak diobati dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kemandulan.
Hal ini dikarenakan infeksi meluas ke rongga rahim, ke saluran telur
dan kemudian sampai ke indung telur dan bisa menyebar sampai ke dalam
rongga panggul.
Bahaya Keputihan Wanita Hamil
Keputihan seringkali dianggap
sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu
ketika mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke
dokter. Padahal, keputihan tidak normal karena infeksi yang berlanjut
dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, selain dapat
mengganggu kesehatan ibu, juga dapat berpengaruh terhadap janin.
Selama belum terjadi persalinan dan
selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh selaput
ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung
infeksi vagina yang menyebabkan terjadinya keputihan pada janin. Namun
bila saat persalinan masih terdapat infeksi, maka dampak keputihan yang
terjadi tergantung penyebabnya, dimana bayi akan terkontak dengan
penyebab keputihan tersebut.
Misalnya, pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur). Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur Candida sp dapat meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan.
Pada keputihanyang disebabkan oleh
infeksi, tentunya infeksi yang berlanjut dan tergantung penyebabnya,
dapat mengganggu kesehatan ibu hamil. Misalnya bila terjadi infeksi Chlamydia pada
kehamilan, dapat terjadi pecahnya selaput ketuban sebelum masa
persalinan. Hal ini berakibat terjadinya infeksi pada janin dan juga
pada ibu yang dapat menyebabkan infeksi berat hingga kematian.
Maka bagi wanita hamil yang menderita
keputihan pada masa kehamilan segera memeriksakan diri ke dokter untuk
memastikan apakah keputihan tersebut masih normal atau sudah tidak
normal dan memerlukan pengobatan. Penanganan atau pengobatan untuk
keputihan pada ibu hamil tergantung penyebab keputihan itu sendiri.
Selasa, 24 Januari 2012
KONSEP DASAR TIMBULNYA PENYAKIT
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Penyakit merupakan salah satu gangguan kehidupan manusia yang telah dikenal orang sejak dahulu. Pada
mulanya, konsep terjadinya didasarkan pada adanya gangguan makhluk
halus atau karena kemurkaan dan yang maha pencipta. Hingga saat ml,
masih banyak kelompok masyarakat di negara berkembang yang meng anut
konsep tersebut. Di bin pihak masih ada gangguan kesehatan/ penyakit
yang belum jelas penyebabnya, maupun proses kejadian.
Pada
tahap berikutnya, Hippocrates telah mengembangkan teori bahwa timbulnya
penyakit disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang meliputi air, udara,
tanah, cuaca, dan lain sebagainya. Namun demikian dalam teori tidak
dijelaskan bagaimana kedudukan manusia dalam interaksi tersebut, serta
tidak dijelaskan tentang faktor lingkungan bagaimana yang dapat
menimbulkan penyakit.
Pada
kehidupan masyarakat Cina dikenal pula teori terjadinya penyakit yang
timbul karena adanya gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh manusia (teori humoral).
Dalam teori ini dikatakan bahwa dalam tubuh manusia ada empat macam
cairan, yakni cairan putih, kuning, merah, dan hitam. Bila terjadi
gangguan.
keseimbangan
tersebut, akan menimbulkan penyakit tertentu, (tergantung pada jenis
cairan mania yang bersifat dominan. Hingga hunt ml, Icon tersebut masih
merupakan dasar dalam sistem pengobatan Cina tradisional,
Kemudian
berkembang teori terjadinya penyakit karena sisa makhluk hidup yang
mengalami pembusukan, sehingga meninggalkan pengotoran udara dun
lingkungan sekitarnya. Teori ini terutama pada abad pertengahan dan pada
waktu itu lebih mengarah pada kebersihan lingkungan terhadap sisa-sisa
peninggalan makhluk hidup. Contoh pengaruh teori tersebut adalah
timbulnya penyakit malaria yang di kira karena sisa-sisa pembusukan
binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa (malaria artinya daerah yang
jelek) dan masih ada masyarakat yang tetap menganut teori tersebut.
Akhirnya
pada abad-abad selanjutnya, terjadi perubahan yang cukup besar dalam
konsep terjadinya penyakit, dengan didapatkannya mikroskop. sehingga
konsep penyebab penyakit beralih ke jasad renik Perkembangan selanjutnya
mengantar para ahli ke arah hormonal yang semakin berkembang. Pada saat
itu, orang mulai optimis dalam menghadapi berbagai penyakit dengan
antibiotika, sistem imunitas, dan lain sebagainya.
Ternyata
setelah penyakit menular mulai dapat di atasi pada negara-negara maju,
muncullah masalah berbagai penyakit menahan/tidak menular yang unsur dan
faktor penyebabnya sangat berkaitan erat dengan faal tubuh, mutasi dan
sifat resistensi tubuh, dan pada umumnya terdiri dari berbagai faktor
yang saling kiat mengkait. Keadaan ini sangat erat hubungannya dengan
berbagai pengamatan epidemiologi terhadap gangguan kesehatan. Dan pada
saat ini, teori tentang faktor penyebab penyakit tidak dapat dipisahkan
dengan berbagai faktor yang berperan dalam proses kejadian penyakit yang
dikembangkan melalui teori ekologi lingkungan yang didasarkan pada
konsep bahwa manusia berinteraksi dengan berbagai faktor penyebab dalam
lingkungan tertentu dan pada keadaan tertentu akan menimbulkan penyakit
yang tertentu pula.
- Tujuan
- Umum
Untuk mengetahui konsep dasar timbulnya penyakit di dalam lingkungan masyarakat.
- Khusus
- Untuk mengetahui perkembangan teori terjadi penyakit
- Untuk mengetahui konsep penyebab dan proses awal terjadinya.
- Untuk mengetahui riwayat alamiah suatu penyakit
- Untuk mengetahui pola penyebaran penyakit
- Untuk mengetahui penyebab majemuk
- Untuk mengetahui manfaat riwayat alamiah riwayat
- Manfaat
- Manfaat Ilmiah
- Merupakan manfaat bagi ilmu kesehatan sebagai data dasar konsep timbul penyakit
- Manfaat Praktis
- Dapat digunakan sebagai panduan di dalam konsep timbul awal mulanya ጴንያክት።
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep
penyebab dan proses terjadinya penyakit dalam epidemiologi berkembang
dari rantai sebab akibat kesuatu proses kejadian penyakit yakni proses
interaksi antara manusia (pejamu) dengan berbagai sifatnya (biologis,
Fisiologis, Psikologis, Sosiologis dan antropologis) dengan penyebab
(agent) serta dengan lingkungan (Enviroment). (Nur nasry noor,2000.Dasar
epidemiologi,Rineka cipta.Jakarta)
Menurut
John Bordon, model segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi tiga
komponen penyakit yaitu Manusia (Host), penyebab (Agent) dan lingkungan
(Enviromet). Untuk memprediksi penyakit, model ini menekankan perlunya
analis dan pemahaman masing-masing komponen. Penyakit dapat terjadi
karena adanya ketidak seimbangan antar ketiga komponen tersebut. Model
ini lebih di kenal dengan model triangle epidemiologi atau triad
epidemilogi dan cocok untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi sebab
peran agent (yakni mikroba) mudah di isolasikan dengan jelas dari
lingkungan.
Pejamu (Host) : hal-hal yang berkaitan dengan terjadinya penyakit pada manusia, antara lain :
- Umur, jenis kelamin, ras, kelompok etmik (suku) hubungan keluarga
- Bentuk anatomis tubuh
- Fungsi fisiologis atau faal tubuh
- Status kesehatan, termasuk status gizi
- Keadaan kuantitas dan respon monitors
- Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial
- Pekerjaan, dll. (Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media presindo,Yogyakarta. Hal.15-16)
Menurut
Hari Purnomo yang paling berkepentingan dan berperan untuk membuat
terjadinya suatu penyakit atau tidak justru manusia? Mengapa karena dia
yang diberi rahmat untuk mengendalikan, katanya jelas. Dalam manusia
juga memiliki karakteristik yang sangat berpengaruh seperti jenis
kelamin (laki-laki dan perempuan), usia (tua, muda, anak-anak), dll.
Semua itu berpengaruh terhadap timbulnya penyakit. Contoh kongkrit
wanita lebih rentan terhadap serangan berbagai penyakit-usahapun
demikian karena usia yang amat tua dan amat muda akan mudah jatuh
sakit. Kemudian faktor keturunan juga berpengaruh. Misalnya penyakit
keturunan talasemia. Jika ada plasmodium melawan ditukarkan pada orang
tersebar oleh nyamuk, penyakit itu tidak akan terjangkit pada penderita
talasemia, karena sel darah merah yang ada tidak menguntungkan untuk
pertumbuhan plasmodium. Dan faktor yang sangat penting orang perilaku
kebiasaan untuk faktor perilaku dan kebiasaan menurut hari, secara dan
kebiasaan tertentu, memang bisa menimbulkan resiko memberikan proteksi
dan perlindungan. Dan semata-mata karya menyoroti kebiasaan hidup.
Tetapi kebiasaan hidup yang mana, yang bisa dikatakan memberikan
perlindungan atau memberikan kecenderungan terjadi penyakit.(http;//
Konsep dasar perjalanan penyakit.)
Unsur pejamu secara umum dapat dibagi dalam doa kelompok yaitu :
- Manusia sebagai makhluk biologis memiliki sekat biologis tertentu seperti
- Umur, jenis kelamin, ras dan keturunan
- Bentuk anatomis tubuh serta
- Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai berbagai sifat khusus seperti
- Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama dan hubungan keluarga sehubungan sosial kemasyarakatan.
- Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kebiasaan hidup sehat. (Nur nasry noor,2002.Epidemiologi.Universitas Hasanuddin.Makassar.Hal.27)
pada
dasarnya, tidak satu pun penyakit yang dapat timbul hanya di sebabkan
oleh satu faktor tunggal semata, pada umumnya kejadian penyakit di
sebabkan oleh berbagai unsur yang secara bersama-sama mendorong
terjadinya penyakit, namun demikian, secara dasar, unsur penyebab
penyakit dapat di bagi dalam dua bagian utama yakni :
- Penyebab kausal primer, dan
- Penyebab kausal sekunder.
- Penyebab kausal primer
Unsur
ini dianggap sebagai faktor kausal Terjadinya penyakit, dengan
ketentuan bahwa walaupun unsur ini ada, belum tentu terjadi penyakit,
tetapi sebaliknya, Pada penyakit tertentu, unsur ini dijumpai sebagai
unsur penyebab kausal. Unsur penyebab kausul ini dapat dibagi dalam 6
kelompok yaitu :
- Unsur ‘penyebab biologis yakni semua unsur penyebab yang tergolong makhluk hidup termasuk kelompok mikro organisme seperti Virus, bakteri, protozoa, jamur, kelompok cacing, dan insekta. Unsur penyebab ini pada umumnya di jumpai pada penyakit infeksi menular
- Unsur penyebab, nutrisi yakni semua unsur penyebab yang termasuk golongan zat nutrisi dan dapat menimbulkan penyakit tertentu karena kekurangan maupun kelebihan zat nutrisi tertentu seperti protein, lemak, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.
- unsur penyebab kimiawi yakni semua unsur dalam bentuk senyawaan kimia yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit tertentu. Unsur ini pada umumnya berasal dari luar tubuh termasuk berbagai jenis zat, racun, obat-obatan keras, berbagai senyawaan kimia ini dapat berbentuk padat, cair, uap, maupun gas. Ada pula senyawaan kimiawi sebagai hasil produk tubuh (dari dalam) yang dapat menimbulkan penyakit tertentu seperti ureum, kolesterol, dan lain-lain
- unsur penyebab fisika yakni semua unsur yang dapat menimbulkan penyakit melalui proses fisika umpamanya panas (luka bakar), irisan, tikaman, pukulan (rudapaksa), radiasi dan lain-lain. Proses kejadian penyakit dalam hal ini terutama melalui proses fisika yang dapat menimbulkan kelainan dan gangguan kesehatan.
- Unsur penyebab psikis yakni semua unsur yang pertalian dengan kejadian penyakit gangguan jiwa serta gangguan tingkah laku sosial. Unsur penyebab ini belum jelas proses dan mekanisme kejadian dalam timbulnya penyakit, bahkan sekelompok ahli lebih menitik beratkan kejadian penyakit pada unsur penyebab genetika. Dalam hal ini kita harus berhati-0hati terhadap faktor kehidupan sosial yang bersifat non kausal serta lebih menampakkan diri dalam hubungannya dengan proses kejadian penyakit maupun gangguan kejiawaan.
- Penyebab non kausal (sekunder)
Penyebab
sekunder merupakan unsur pembantu/penambah dalam proses kejadian
penyakit dan ikut dalam hubungan sebab akibat terjadinya penyakit.
Dengan demikian, maka dalam setiap analis penyebab penyakit dan hubungan
sebab akibat terjadinya penyakit, kita tidak hanya berpusat pada
penyebab kausal primer semata, tetapi harus memperhatikan semua unsur
lain di luar unsur penyebab kausal primer. Hal ini di dasarkan pada
ketentuan bahwa pada umumnya kejadian setiap penyakit sangat di
pengaruhi oleh berbagai unsur yang berinteraksi dengan unsur penyebab
dan ikut dalam proses sebab akibat. Sebagai contoh pada penyakit
kardiovaskuler, tuberkulosis, kecelakaan lalu lintas, dan lain
sebagainya. Kejadiannya tidak di batasi hanya pada penyebab kausal saja,
tetapi harus di analisis dalam bentuk suatu rantai sebab akibat di mana
peranan unsur penyebab sekunder sangat kuat dalam mendorong penyebab
kausal primer untuk dapat secara bersama-sama menimbulkan penyakit. (Nur nasry noor,2000.Dasar epidemiologi,Rineka cipta,Jakarta. Hal.25-27)
Dan penyebab agent menurut model segitiga epidemilogi terdiri dari biotis dan abiotis.
- Biotis khususnya pada penyakit menular yaitu terjadi dari 5 golongan
- Protozoa : misalnya Plasmodum, amodea
- Metazoa : misalnyaarthopoda , helminthes
- Bakteri misalnya Salmonella, meningitis
- Virus misalnya dengue, polio, measies, lorona
- Jamur Misalnya : candida, tinia algae, hystoples osis
- Abiotis, terdiri dari
- Nutrient Agent, misalnya kekurangan /kelebihan gizi (karbohididrat, lemak, mineral, protein dan vitamin)
- Chemical Agent, misalnya pestisida, logam berat, obat-obatan
- Physical Agent, misalnya suhu, kelembaban panas, kardiasi, kebisingan.
- Mechanical Agent misalnya pukulan tangan kecelakaan, benturan, gesekan, dan getaran
- Psychis Agent, misalnya gangguan phisikologis stress depresi
- Physilogigis Agent, misalnya gangguan genetik.
Kebiasaan
hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kehidupan sehat.(Heru
subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media pressindo,Yogyakarta.
Hal.16-17.)
Unsur lingkungan (Enviroment)
Unsur
lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan
terjadinya sifat karakteristik individu sebagai pejamu dan iku memegang
peranan dalam proses kejadian penyakit.
- Lingkungan Biologis
Segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia yang antara ,ain meliputi :
- Beberapa mikroorganisme patogen dan tidak patogen;
- Vektor pembawa infeksi
- Berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan), maupun sebagai reservoir/sumber penyakit atau pejamu antara (host intermedia) ; dan
- Fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit tertentu terutama penyakit menular.
Lingkungan
biologis tersebut sangat berpengaruh dan memegang peranan yang penting
dalam interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan unsur penyebab,
baik sebagai unsur lingkungan yang menguntungkan manusia (senbagai
sumber kehidupan) maupun yang mengancam kehidupan / kesehatan manusia
(Nur nasri noor.2002,Epidemiologi,Univesutas Hasanuddin
Makassar.Hal.28-29)
- Lingkungan fisik
Keadaan
fisik sekitar manusia yang berpengaruh terhadap manusia baik secara
langsung, maupun terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial
manusia. Lingkungan fisik (termasuk unsur kimiawi serta radiasi) meliputi :
- Udara keadaan cuaca, geografis, dan golongan
- Air, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai bentuk pemencaran pada air, dan
- Unsur kimiawi lainnya pencemaran udara, tanah dan air, radiasi dan lain sebagainya.
Lingkungan
fisik ini ada yang termasuk secara alamiah tetapi banyak pula yang
timbul akibat manusia sendiri (Nur nasri noor,2000,Dasar
epidemiologi,Rinika cipta,Jakarta. Hal.28.)
- Lingkungan sosial
Semua
bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, sistem organisasi.
Serta instusi/peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk
masyarakat tersebut. Lingkungan sosial ini meliputi :
- Sistem hukum, administrasi dan lingkungan sosial politik, serta sistem ekonomi yang berlaku;
- Bentuk organisasi masyarakat yang berlaku setempat
- Sistem pelayanan kesehatan serta kebiasaan hidup sehat masyarakat setempat, dan
- Kebiasaan hidup masyarakat
- Kepadatan penduduk. Kepadatan rumah tangga, serta berbagai sistem kehidupan sosial lainnya.
Dari
keseluruhan unsur tersebut di atas, di mana hubungan interaksi antara
satu dengan yang lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses
kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan
demikian maka terjadinya suatu penyakit tidak hanya di tentukan oleh
unsur penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai
penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai faktor
maupun unsur lainnya. Oleh sebab itu, maka dalam setiap proses
terjadinya penyakit, selalu kita memikirkan adanya penyebab jamak
(multiple causational). Hal ini sangat mempengaruhi dalam menetapkan
program pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu. Karena usaha
tersebut hanya akan memberikan hasil yang di harapkan bila dalam
perencanaannya memperhitungkan berbagai unsur di atas.(Nur nasry
noor.2002.Epidemiologi.Universitas Hasanuddin,Makassar.Hal.29)
Dari
penyesalan model segitiga epidemiologi sangat berhubungan erat dan
saling terkait, dan keseimbangan itulah yang menentukan terjadi atau
tidaknya suatu penyakit. Dan pertimbangan ini menerapkan pertimbangan
mendasar yang sangat terpisah, tetapi itu tidak cukup sebab masih ada
beberapa pertimbangan penting lainnya yakni pertimbangan perjalanan
alamiah penyakit.(http;//portal tiens.com/portal)
Menyadari
bahwa mencegah berbagai penyakit lebih baik dan lebih ekonomis dari
pada mengobati penyakit, maka faktor-faktor penentu terjadinya suatu
penyakit perlu kita kenali dan pahami.
Di
tengah kecenderungan meningkatnya penyakit akibat pola perilaku gaya
hidup yang tidak sehat instabilities lingkungan yang tidak ramah,
tuntutan masyarakat atas layanan kesehatan yang layak terus meningkat.
Hal ini berjalan seiring dengan berjalannya daya dukung, kebijakan , dan
berkepihakan pemerintah terhadap kepentingan
masyarakat.(http;//.www.republika.co.id)
Menurut
peran pakar, perilaku manusia dan pencemaran lingkungan merupakan dua
faktor penyebab tidak langsung berbagai penyakit yang perlu di atasi
penanggulangannya. Selain itu untuk pencegahan dini, faktor gizi
terhadap proses terjadi penyakit seiring dengan bertambahnya perlu
mendapat perhatian. Dengan dukungan gizi yang seimbang, proses
terjadinya penyakit dapat di hambat, di Hentikan, bahkan di sembuhkan.
Namun satu hal yang lebih penting adalah pencegahan terjadinya penyakit
yang dapat dilakukan dengan dukungan gizi yang optimal.
Sejak
1950-an kita mengenal pedoman empat sehat lima sempurna yang masih
sering di gunakan sampai saat ini. Dengan pengembangan dan penyempurnaan
4 sehat 5 sempurna yang di sesuaikan dengan perkembangan ilmu dan
teknologi gizi serta masalah gizi yang ada saat ini, maka sejak 1995
Departemen kesehatan bersama dengan sektor terkait mengeluarkan pedoman.
Aman gizi seimbang (PUGS) yang berisi pesan Dasar Gizi
seimbang.(http;//www.yahoo.com.)
KETERPAPARAN ADAN KERENTANAN
Dari
proses terjadinya penyakit, kita harus menentukan batas-batas antara
sehat dan tidak sehat (sakit). Menurut WHO, sehat adalah keadaan
kesempurnaan fisik, mental dan keadaan sosial dan bukan berarti hanya
bebas dari penyakit atau kelainan/cacat. Dengan demikian maka sakit
dapat di artikan sebagai, suatu penyimpangan dari suatu penampilan yang
optimal. Sedangkan penyakit merupakan suatu proses gangguan fisiologis
(faal tubuh), serta/atau gangguan psikologis /mental maupun suatu
gangguan tingkah laku (hehaviour).
Pada
umunya peralihan dari suatu keadaan sehat, ke keadaan sakit hanya pada
batas yang tidak jelas, tetapi melalui suatu proses yang pada umumnya
didahului dengan kondisi keterpaduan (Exporused) terhadap unsur tertentu
untuk menjadi sakit.
Hubungan antara derajat keterpaparan dengan kondisi kerentanan dalam proses terjadinya penyakit
-
KONDISI KETERPAPARAN
KEADAAN KEKEBALANRENTANKEBALPOSITIFSAKITTIDAK SAKITNEGATIFTIDAK SAKITTIDAK SAKIT
Dengan
memperhatikan gambar di atas maka jelas baik kita bahwa, seorang dapat
menjadi sakit apabila orang tersebut mengalami keterpaparan terhadap
unsur penyebab tertentu. (primer maupun sekunder) dan dilain pihak
orang tersebut sekaligus berada pada tingkat kerentangan tertentu. Kedua
faktor keterpaparan dan kerentangan sangat dipengaruhi pula oleh
berbagai unsur terutama unsur lingkungan dan unsur pejamu. Oleh sebab
itu, dalam epidemiologi terapan, keadaan ini harus betul-betul disadari,
terutama tingkat kuanlitas maupun kualitas/derajat serta sifat dan
bentuk dari unsur yang menimbulkan keterpaparan. (Nur nasry
noor,2000.Dasar epidemiologi,Rineka cipta,Jakarta.)
Kejadian
penyakit, tidak terkecuali penyakit akibat (mendadak) mempunyai masa
perlangsungan tersendiri. Bagaimanapun mendadaknya, perlu waktu, yang
memang mungkin singkat, untuk tercetusnya suatu penyakit. Dalam
mengetahui keberadaan (diagnosis) penyakit, diperlukan perhatian dan
perhitungan terhadap faktor waktu perlangsungan penyakit. Untuk setiap
penyakit, diinginkan untuk melakukan diagnosis benar, tepat waktu
ataupun secepatnya.
Untuk
membuat diagnosis, salah satu hal yang perlu diketahui adalah riwayat
alamiah penyakit (natural history of disease). Riwayat alamiah suatu
penyakit adalah perkembangan penyakit itu tanpa campur tangan medis atau
bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara
alamiah (Fletcher,22) (Bustam,2006,Pengantar epidemiologi,Rinika
cipta,Jakarta.)
Riwayat alamiah suatu penyakit pada umumnya melalui tahap sebagai berikut :
- Tahap prepatogensis
- Tahap PatogenesiTahap
Uraian masing-masing tahap itu adalah sebagai berikut :
a. Tahap Prepatogensis
Pada
tahap ini individu berada dalam keadaan normal/sehat tetapi mereka pada
dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen
penyakit (stage of suseptibility). Walaupun demikian pada tahap ini
sebenarnya telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit.
Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit
penyakit masih ada diluar tubuh pejamu dimana para kuman mengembangkan
potensi infektifitas, siap menyerang peniamu. Pada tahap ini belum ada
tanda-tanda sakit sampai sejauh daya tahan tubuh penjamu masih kuat.
Namun begitu penjamunva ‘lengah’ ataupun memang bibit penyakit menjadi
lebih ganas ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan
pejamu, maka keadaan segera dapat berubah. Penyakit akan melanjutkan
perjalanannya memasuki fase berikutnya, tahap patogenesis.
b. Tahap Patogenesis
Tahap ini meliputi 4 sub-tahap yaitu:- Tahap Inkubasi, - Tahap Dini, - Tahap Lanjut, dan -Tahap Akhir.
- Tahap Inkubasi
Tahap
inkubasi merupakan tenggang diwaktu antara masuknya bibit penyakit ke
dalam tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit, sampai timbulnya
gejala penyakit. Masa inkubasi ini bervariasi antara
satu penyakit dengan penyakit lainnya. Dan pengetahuan tentang lamanya
masa inkubasi ini sangat penting, tidak sekadar sebagai pengetahuan
riwayat penyakit, tetapi berguna untuk informasi diagnosis. Setiap
penyakit mempunyai masa inkubasi tersendiri, dan pengetahuan masa
inkubasi dapat dipakai untuk identifikasi jenis penyakitnya.
- Tahap Dini
Tahap
ini mulai dengan munculnya gejala penyakit yang Kelihatannya ringan.
Tahap ini sudah mulai menjadi masalah kesehatan karena sudah ada
gangguan patologis (pathologic changes), walaupun penyakit masih dalam
masa subklinik (stage of subclinical disease). Seandainya memungkinkan, pada tahap ini sudah diharapkan diagnosis dapat ditegakkan secara dini.
- Tahap Lanjut
Merupakan
tahap di mana penyakit bertambah jelas dan mungkin tambah berat dengan
segala kelainan patologis dan gejalanya (stage of clinical disease).
Pada tahap ini penyakit sudah menunjukkan gejala dan kelainan klinik
yang jelas, sehingga diagnosis sudah relatif mudah ditegakkan. Saatnya
pula, setelah diagnosis ditegakkan, diperlukan pengobatan yang tepat
untuk menghindari akibat lanjut yang kurang baik,
- Tahap Akhir/ pasca patogenesis.
Berakhirnya perjalanan penyakit dapat berada dalam lima pilihan keadaan, yaitu:
- Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan
tubuh menjadi pulih, sehat kembali.
- Sembuh dengan cacat, yakni bibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat.
- Karier, di mana tubuh penderita pulih kembali, namun
penyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit.
- Penyakit tetap berlangsung secara kronik.
- Berakhir dengan kematian.(Bustam,2002,Pengantar epidemiologi,Rinika cipta,Jakarta.)
POLA PENYEBAB PENYAKIT
Sutu
penyakit (menular) tidak hanya selesai setelah membuat seseorang sakit,
tetapi cenderung untuk menyebar setelah menyelesaikan riwayat pada
suatu rangkaian. kejadian sehingga seseorang jatuh sakit, pada saat yang
sama penyakit bersama dengan kumannva dapat berpindah dan menyebar
kepada orang lain/masyarakat.
Dalam
proses perjalanan penyakit, kuman memulai aksinya dengan memasuki pintu
masuk tertentu (portal of entry) calon penderita baru dan kemudian jika
ingin berpindah ke penderita baru lagi akan ke luar melalui pintu
tertentu (portal of exit).
Kuman
penyakit tidak masuk dan ke luar begitu saja tetapi harus melalui
“pintu” tubuh tertentu sesuai dengan jenis masing-masing penyakit
misalnya melalui: kulit, saluran pernapasan, saluran pencernaan, atau
saluran kemih. Dalam memilih pintu masuk-keluar ini setiap jenis kuman
mempunyai jalan masuk dan ke luar tersendiri dan tubuh manusia. Ada yang
masuk melalui mulut (oral) dan ke luar melalui dubur (sistem
pencernaan), seperti yang dilakukan oleh kebanyakan cacing. Namun ada
pula yang masuk melalui kulit tetapi ke luar melalui dubur, misalnya
cacing Ankylostoma.
Pengetahuan
tentang jalan masuk mi penting untuk epidemiologi karena dengan
pengetahuan itu dapat dilakukan ‘penghadangan’ perjalanan kuman masuk ke
dalam tubuh manusia. Cacing yang ingin masuk melalui mulut dicegah
dengan upaya cuci tangan sebelum makan. Sedangkan pengetahuan tentang
jalan keluar bermanfaat untuk menemukan kuman itu untuk tujuan
identifikasi atau diagnosis. Misalnya kuman TBC keluar melalui batuk
maka penemuan kuman TBC dilakukan dengan penangkapan kumannya
dibatuk/dahak.(http;//www.yahoo.com.)
PENYEBAB TIMBULNYA PENYAKIT SEKARANG INI
Pencemaran makanan
- Sisa-sisa pestisida dan pupuk pada buah-buahan, sayur-sayuran-sayuran makanan lainnya
- Bahan tambahan. zat pewarna. dan penyedap rasa pada makanan dibekukan;
- Zat penawar racun. hormon, dsb., pada makanan hewan;
- Kerusakan bahan gizi selama proses memasak.
Pencemaran lingkungan dan udara
1) Gas limbah industri;
2) Pencemaran rumah tempat tinggal sebagai akibat dan berbagai interior;
Pencemaran sumber air
1) Air limbah industri;
2) Penimbunan mikro organisme dalam air:
3) Pupuk. pestisida, sampah putih:(4) Pencemaran pada proses pemanasan air ledeng :
5) Air minum yang tidak diproses menurut aturan.
Pencemaran yang disebabkan oleh fasilitas modern
Televisi,
radio. kabel tegangan tinggi, microwave. komputer, pemantul cahaya yang
kuat, dan radiasi frekuensi rendah, semua berpengaruh.
Polusi suara
Suara
yang ditimbulkan oleh mobil, mesin, sepeda motor. suara orang seseorang
menjadi cepat marah dan sukar untuk berkonsentrasi.
Standar Kesehatan
Kesehatan memerlukan diet yang seimbang. tidur yang cukup, latihan memiliki jiwa yang sehat. Orang sehat memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
- Berbadan yang kuat, memiliki kemampuan untuk dengan mudah menangani tekanan dan kehidupan sehari-hari tanpa mengalami stress, dan mampu untuk melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan.
- Memiliki rasa optimis dengan sikap yang positif, kebersediaan untuk bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan, bersikap ketat terhadap din sendiri namun lembut terhadap orang lain.
- Kemampuan untuk menangani berbagai keadaan yang bersifat darurat dan mampu untuk beradaptasi terhadap adanya perubahan.
- Kemampuan untuk bertahan terhadap cuaca dingin yang normal dan penyakit menular.
- Memiliki berat badan yang normal dan bentuk tubuh yang sebanding terhadap semua bagian dan tubuh ketika berada pada posisi berdiri yang layak.
- Mata bersinar, cekatan dalam bertindak, dan tanpa adanya iritasi
- Memiliki rambut yang bercahaya dengan sedikit atau tanpa adanya ketombe.
- Memiliki gigi yang bersih tanpa adanya gigi berlubang atau yang terasa sakit, dan dengan gusi yang sehat.
- Kondisi otot dan kulit yang elastis. bila berjalan dengan langkah yang gesit.
- Memiliki kemampuan untuk beristirahat dan tidur dengan baik.
Konsep dasar mengenai gizi
Gizi:
dengan gizi, tubuh melakukan proses asimilasi dan mengambil manfaat dan
makanan atau bahan gizi, dan juga proses fisiologi dengan memanfaatkan
makanan untuk memenuhi kebutuhan fisiologi dan organisme.
Gizi
yang layak: dengan melakukan diet yang wajar dan memasak serta
memproses makanan secara sehat dapat memberikan jumlah yang cukup
berkenaan dengan tenaga panas dan berbagai bahan gizi untuk tubuh
manusia, sambil menjaga keseimbangan antara semua bahan gizi sehingga
dapat memenuhi kebutuhan fisiologi yang normal dan tubuh dan menjaga
badan tetap sehat.
Bahan
gizi: Untuk menjaga fungsi phisiologi yang normal dan dapat memenuhi
kebutuhan tubuh untuk keperluan pertumbuhan, metabolisme dan bekerja.
orang harus mengkonsumsi bahan-bahan gizi yang diperlukan sehari-hari.
Bahan gizi ini dapat dibagi menjadi tujuh kategori : protein. vitamin,
mineral. lemak. gula. air. dan selulosa (senyawa karbon. hidrogen dan
oksigen).
Gizi dan kesehatan
Orang
menganggap bahwa makanan adalah sebagai kepentingan yang sangat vital.
Pada sepanjang kehidupan kita, gizi adalah sebagai unsur dasar yang
dapat mempertahankan kehidupan dan menyediakan tenaga yang dibutuhkan
oleh sel-sel sehingga berbagai jaringan dan organ-organ tubuh dapat
melakukan berbagai tindakan yang terkoordinasi. Kehidupan manusia dapat
diibaratkan sebagai sebuah pohon kayu yang kecil yang memerlukan siraman
air secara terus menerus. pemupukan dan pemeliharaan agar menjadi mampu
untuk melakukan pertumbuhan secara kuat. Demikianlah pentingnya gizi
untuk kehidupan manusia. Selama masa penambahan gizi, hanya ii yang
seimbang yang dapat mencegah tubuh dan keadaan yang tidak seimbang
antara Yin dan Yang selanjutnya dapat mengarah kepada timbulnya penyakit
Pemberian tambahan gizi hendaklah secara wajar dan menurut ilmu
pengetahuan ilmiah. Bila seseorang jatuh sakit, maka diperlukan untuk
memperoleh pengobatan ;bila seseorang berada dalam keadaan sehat. maka
perlu untuk melakukan penjagaan terhadap penyakit. Oleh sebab itu,
dilakukan pencegahan terhadap penyakit adalah sebagai masalah yang
sangat mendasar dalam huhungannya dengan pemeliharaan kesehatan. Gizi
yang sehat dan seimbang dan gaya hidup yang diperbaiki akan dapat
mengatur dan meningkatkan ketubuh “Buatlah hidup ini menjadi bahagia
dengan memelihara kesehatan” dengan melakukan diet secara aktif untuk
perawatan kesehatan dalam rangka melakukan pencegahan terhadap penyakit
maka akan dapat diperoleh kondisi kesehatan dan
gizi(http;//www.tiens.com/portal.)
PENYEBAB MAJEMUK
Telah
banyak bukti empirik dan keyakinan teoritik bahwa pada umumnya penyakit
memiliki Lebih dan satu penyebab, bukan bersifat tunggal. Faktor-faktor penyebab mi dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu :
- Faktor Predisposisi, seperti: umur, jenis kelamin, Riwayat penyakit terdahulu, dlL
- Faktor Pencetus, seperti: pemaparan oleh agen penyakit yang spesifiK,
- Faktor Pendorong, seperti: paparan yang berulang, beban kerja yang berat,
- Faktor Pemberat, seperti: pendapatan rendah, status gizi, kondisi perumahan, dlL.
Peran
faktor-faktor penyebab dalam model kualitas majemuk dicontohkan pada
penyakit TBC bersifat kumulatif, di mana keadaan yang mencukupi
terjadinya TBC klinik hanya bisa diciptakan secara bersama-sama. jadi,
masing-masing faktor merupakan necessary couse, tetapi tidak sufficient
(keadaan yang dibutuhkan untuk terjadinya penyakit di sebut necessary
condition sedangkan keadaan yang cukup membuat terjadinya penyakit di
sebut sufficient condition).(Heru subaris dkk,2004,manajemen
epidemiologi,Media presindo,Yogyakarta.Hal.12-13.)
Manfaat riwayat alamiah dari penyakit diperoleh beberapa informasi penting yaitu :
- Masa inkubasi atau masa latent, masa atau waktu yang diperlukan selama perjalanan suatu penyakit untuk menyebabkan seseorang jatuh sakit.
- Kelengkapan keluhan (symptom) yang menjadi bahan informasi dalam menegakkan diagnosis.
- Lamanya dan beratnya keluhan dialami oleh penderita.
- Kejadian penyakit menurut musim (season) kapan penyakit itu Lebih frekuan kejadiannya.
- Kecenderungan lokasi geografis serangan penyakit sehingga dapat dengan mudah di deteksi lokasi kejadian penyakit.
- Sifat-sifat biologis kuman patogen sehingga menjadi bahan informasi untuk pencegahan penyakit, khususnya untuk pembunuhan kuman penyebab.
Pengetahuan
tentang riwayat alamiah penyakit merupakan langkah awal yang perlu
dilakukan untuk mengetahui aspek-aspek lain yang terkait dengan
penyakit. Dengan mengetahui riwayat alamiah dapat ditarik beberapa manfaat seperti:
- Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai sebagai pedoman penentuan jenis penyakit, misalnya jika terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).
- Untuk pencegahan : dengan mengetahui kuman patogen penyebab dan rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit. Dengan mengetahui riwayat penyakit dapat terlihat apakah penyakit itu perlangsungannya akut ataukah kronik. Tentu berbeda upaya pencegahan yang diperlukan untuk penyakit yang akut dibanding dengan kronik.
- Untuk terapi: intervensi atau terapi hendaknya biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit itu terapi tepat sudah perlu diberikan. Lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan. Keterlambatan diagnosa akan berkaitan dengan keterlambatan terapi.(Bustam,2006,Pengantar epidemiologi,Rineka Cipta,Jakarta.Hal.41-42).
Karakteristik Segitiga Utama
Ketiga
faktor dalam trias epidemiologi terus menerus dalam keadaan
berinterkasi satu sama lain. Jika interaksinya seimbarig, terciptalah
keadaan sehat. Begitu terjadi gangguan keseimbangan, muncul penyakit.
Terjadinya gangguan keseimbangan bermula dan perubahan unsur-unsur trias
itu. Perubahan unsur trias yang potensial menyebabkan kesakitan
tergantung pada karakteristik dan ketiganya dan interaksi antara
ketiganya.
- Karakteristik Penjamu
Manusia mempunyai karakteristik tersendiri dalam menghadapi ancaman penyakit, yang bisa berupa:
- Resistensi.: kemampuan dan penjamu untuk bertahan terhadap suatu infeksi. Terhadap suatu infeksi kuman tertentu, manusia mempunyai mekanisme pertahanan tersendiri dalam menghadapinya.
- Imunitas: kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon imunologis, dapat secara alamiah maupun perolehan (non-alamiah), sehingga tubuh kebal terhadap suatu penyakit tertentu. Selain mempertahankan diri, pada jenis-jenis penyakit tertentu mekanisme pertahanan tubuh dapat menciptakan kekebalan tersendiri. Misalnya campak, manusia mempunyai kekebalan seumur hidup, mendapat munitas yang tinggi setelah terserang campak, sehingga seusai kena campak sekali maka akan kebal seumur hidup.
- lnfektifnes (infectiousness): potensi penjamu yang terinfeksi untuk menularkan penyakit kepada orang lain. Pada keadaan sakit maupun sehat, kuman yang berada dalam tubuh manusia dapat berpindah kepada manusia dan sekitarnya.
- Karakteristik Agen
- Infektivitas: kesanggupan dan organisma untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan dan penjamu untuk mampu tinggal dan berkembang biak (multiply) dalam jaringan penjamu. Umumnya diperlukan jumlah tertentu dan suatu mikroorganisma untuk mampu menimbukan infeksi terhadap penjamunya. Dosis infektivitas minimum (minimum infectious dose) adalah jumlah minimal organisma yang dibutuhkan untuk menyebabkan infeksi. jumlah ini berbeda antara berbagai spesies mikroba dan antara individu.
- Patogenesitas: kesanggupan organisma untuk menimbulkan suatu reaksi klinik khusus yang patologis setelah terjadinya infeksi pada penjamu yang diserang. Dengan perkataan lain, jumlah penderita dibagi dengan jumlah orang yang terinfeksi, Hampir semua orang yang terinfeksi dengan virus smallpox menderita penyakit (high pathogenicthy), sedangkan orang yang terinfeksi poliovirus tidak semua jatuh sakit (low pathogenicity).
- Virulensi: kesanggupan organisma tertentu untuk menghasilkan reaksi patologis yang berat yang selanjutnya mungkin menyebabkan kematian. Virulensi kuman menunjukkan beratnya (severity) penyakit.
- Toksisitas: kesanggupan organisma untuk memproduksi reaksi kimia yang toksis dan substansi kimia yang dibuatnya. Dalam upaya merusak jaringan untuk menyebabkan penyakit berbagai kuman mengeluarkan zat toksis.
- Invasitas: kemampuan organisme untuk melakukan penetrasi dan menyebar setelah memasuki jaringan
- Antigenisitas: kesanggupan organisma untuk merangsang reaksi imunologis dalam penjamu. Beberapa organisma mempunyai antigenisitas Iebih kuat dibanding yang lain. Jika menyerang pada aliran darah (virus measles) akan lebih merangsang immunoresponse dan yang hanya menyerang permukaan membrane (gonococcus).
- Karakteristik Lingkungan
- Topografi: situasi lokasi tertentu, baik yang natural maupun buatan manusia yang mungkin mempengaruhi terjadinya dan penyebaran suatu penyakit tertentu.
- Geograuis: keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi dan bumi yang berhubungan dengan kejadian penyakit.
Perkembangan Teori Terjadinya Penyakit
- Penyakit timbul karena gangguan makhluk halus.
- Teen Hypocrates, bahwa penyakit timbul karena pengaruh Iingkungan terutama: air, udara, tanah, cuaca (tidak dijeIaskan kedudukan manusia dalam Iingkungan).
- Teori Humoral, dimana dikatakan bahwa penyakit timbul karena gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh.
- Teori Miasma, penyakit timbul karena sisa dari mahkluk hidup yang mati membusuk, meninggalkan pengotoran udara dan Iingkungan.
- Teori jasad renik (teori Germ), terutama setelah ditemukannya mikroskop dan dilengkapi teori imunitas.
- Teori nutrisi dan Resistensi, hasil pengamatan pelbagai pengamatan epidemiologis.
Teori Ekologi lingkungan, bahwa manusia berinteraksi dengan penyebab dalam Iingkungan tertentu dapat menimbulkan penyakit.
Berbagai Sumber
Minggu, 22 Januari 2012
PENGEMBANGAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MEWUJUDKAN TATANAN INDONESIA SEHAT
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur senantiasa kita haturkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas limpahan
berkah, rahmat serta inayahnya-lah sehingga kita masih diberi kesehatan dan
kesempatan untuk menyelesaikan TUGAS ini sebagai pengganti MID dari mata kuliah
“Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat” (PPM) yang diberikan oleh dosen
pembimbing, kakanda Zulkarnaen, Skm.
Tak
lepas dari Substansi dan Background penulis, sehingga penulis hanya mengangkat
pokok bahasan pemberdayaan dalam hal kesehatan. Adapun Tema yang penulis akan uraikan
adalah: “Pengembangan masyarakat lokal dalam mewujudkan tatanan Indonesia sehat”.
Dalam
penyusunan Artikel ini, penulis hanya mengambil referensi baik dari buku-buku
yang ada maupun dari internet. Oleh sebab itu, penulis sadar sepenuhnya akan
kekurangan-kekurangan dalam penyusunannya sehingga penulis mengharapkan saran
serta kritikan yang sifatnya konstruktif dalam perbaikan tugas selanjutnya.
Akhirnya tiada kata yang patut
penulis ucapkan selain ucapan syukur dan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada Dosen pembimbing serta teman-teman atas support dan motivasi yang telah
diberikan hingga pada akhirnya Tugas ini terselesaikan tepat pada waktunya.
Makassar,
08 Desember 2011
A. TINJAUAN TEORITIS FAKTA
Kapitalisme
neoliberal menyebabkan terjadinya de-industrialisasi dan memicu krisis ekonomi,
Tranformasi ini menggiring lonjakan intensitas jumlah pengangguran,
ketidakpastian penghasilan, menimbulkakan nilai paradox dalam kesenjangan
sosial-ekonomi dan terpuruk ke dalam kemiskinan yang endingnya adalah masalah
kesehatan yang begitu kompleks. Masalah kesehatan diindonesia masih menjadi
boomerang yang harus terus dicari hubungan kausalitasnya, dimana belum
didapatkan obat dari penyakit yang timbul, timbul lagi penyakit baru (New
communicable disease). Kemiskinan dan kesehatan di negara-negara dunia ketiga
berhubungan dengan eksploitasi terhadap tenaga kerja dan alam serta
dehumanisasi. Kemiskinan
penduduk di negara berkembang merupakan
dinamika kemiskinan multidimensi kehidupan. Di negara-negara dunia ketiga
seperti Indonesia ada kecenderungan
pengentasan kemiskinan berbasis
pemberdayaan khususnya kesehatan.
Arti pemberdayaan masyarakat dalam konteks community
development berarti pertumbuhan kekuasaan dan wewenang bertindak pada
masyarakat untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Pengembangan Masyarakat (PM)
memiliki sejarah panjang dalam praktek pekerjaan sosial (Payne, 1995; Suharto,
1997). Sebagai sebuah metode pekerjaan sosial, PM memungkinkan pemberi dan
penerima pelayanan terlibat dalam proses perencanaan, pengawasan dan evaluasi.
PM meliputi berbagai pelayanan sosial yang berbasis masyarakat mulai dari
pelayanan preventif untuk anak-anak sampai pelayanan kuratif dan pengembangan
untuk keluarga yang berpendapatan rendah. Meskipun PM memiliki peran penting
dalam pekerjaan sosial, PM belum sepenuhnya menjadi ciri khas praktek pekerjaan
sosial. PM masih menjadi bagian dari kegiatan profesi lain, seperti perencana
kota, pengembang perumahan dan peningkatan kesehatan. PM juga masih sering
dilakukan oleh para voluntir dan aktivis pembangunan yang tidak dibayar dan
khususnya adalah kader kesehatan. Telah terjadi perdebatan panjang mengenai
apakah PM dapat dan harus didefinisikan sebagai kegiatan profesional. Yang
jelas, PM memiliki tempat khusus dalam khazanah pendekatan pekerjaan sosial,
meskipun belum dapat dikategorikan secara tegas sebagai satu-satunya metode
milik pekerjaan sosial (Mayo, 1998).
Fasilitator
pemberdayaan bertugas mengembangkan
pembelajaran bagi masyarakat lokal untuk membangun tingkat kemandirian dalam
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Perwujudan kemandirian ditandai
dengan semakin tingginya
keberdayaan
kelompok-kelompok sosial dalam
memenuhi kebutuhan pokok anggotanya dalam hal produktivitas.
Oleh karena itu, kesehatan merupakan kebutuhan
setiap orang yang harus dipenuhi dan dijamin oleh pemerintah negara yang
bersangkutan. Dengan melihat angka kesehatan suatu negara dapat pula dijadikan
sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat negara tersebut. Jika
angka kesehatannya tinggi maka dapat dikatakan negara tersebut sejahtera dan
sebaliknya. Kesejahteraan itupun diukur bagaimana produktivitas SDM nya.
Indonesia merupakan salah satu negara yang
memahami betul akan pentingnya kesehatan (kesejahteraan). Hal ini dapat dilihat
dalam tujuan negara Indonesia, yaitu memajukan kesejahteraan umum, tertuang
dalam pembukaan UUD 1945. Berdasarkan landasan inilah maka dalam APBN
dianggarkan dana untuk menunjang kesehatan masyarakat salah satunya ditujukan
untuk masyarakat miskin mengingat tidak sedikit penduduk Indonesia yang masih
berada di bawah garis kemiskinan yang sampai saat ini menjadi polemik yang
dihadapi bangsa ini.
Seperti diketahui, Visi
Kementerian Kesehatan adalah ”Masyarakat
Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”, sedangkan misinya adalah:
1) meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani
2) melindungi kesehatan masyarakat dengan
menjamin tersedianya upaya kesehatan
yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan
3) menjamin ketersediaan dan pemerataan
sumberdaya kesehatan; dan menciptakan tatakelola kepemerintahan yang baik.
Selanjutnya dalam Rakerkesnas bulan Februari 2011, Menteri Kesehatan kembali menegaskan
bahwa untuk mencapai target pembangunan
kesehatan yang tercermin dalam Visi Kemenkes tersebut di atas, perlu dilakukan
inovasi dan terobosan dalam berbagai hal di setiap tingkat administrasi
pemerintahan dengan tetap memperhatikan koridor hukum. Berkaitan dengan hal itu
Menkes mengingatkan kembali 7 terobosan atau Reformasi Pembangunan Kesehatan
Masyarakat, yaitu:
1) Revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pemenuhan Bantuan Operasional
Kesehatan ( BOK)
2) Ketersediaan, keterjangkauan obat di seluruh fasilitas kesehatan
3)
Ketersediaan, distribusi, dan retensi sumber daya manusia kesehatan yang adil dan merata
4) Pengembangan
jaminan kesehatan
5)
Pengelolaan Daerah Bermasalah Kesehatan dan pelayanan Kesehatan di Daerah
Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan Terpencil
6) Pelaksanaan
Reformasi Birokrasi Kesehatan, dan
7)
Pengembangan World Class Health Care.
Agar dapat tercapainya
reformasi pembangunan kesehatan masyarakat
yang kita dambakan bersama tentunya diperlukan data kesehatan dasar yang
dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. Data tersebut dikumpulkan baik secara rutin maupun melalui berbagai
survei, riset ataupun penelitian. Dalam 5 tahun terakhir ini, Kementerian
Kesehatan – dalam hal ini Badan Litbang Kesehatan – telah 2 kali melaksana
riset dalam skala nasional yaitu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007
dan 2010. Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program,
terutama di jajaran Kementerian Kesehatan; dan Bappenas, untuk evaluasi program
pembangunan kesehatan. Komposit
beberapa indikator Riskesdas 2007 juga
telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di
Indonesia untuk melihat peringkat kabupaten/kota dan merupakan indikator dalam
penentuan daerah bermasalah kesehatan. Demikian juga dari Riskesdas 2010 hasil
yang telah diperoleh adalah dengan diketahuinya pencapaian komitmen upaya kesehatan
tingkat global dan nasional dalam Millenium
Development Goals (MDGs).
Salah satu bentuk upaya yang harus dilakukan
dalam pemberdayaan adalah:
1.
Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan
masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat persuasif dan tidak
memerintah yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku dan
kemampuan masyarakat dalam menemukan, merencanakan dan memecahkan masalah,
menggunakan sumber daya atau potensi yang mereka miliki termasuk partisipasi
dan dukungan tokoh masyarakat serta LSM yang ada dan hidup di masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan akan menghasilkan kemandirian
masyarakat di bidang kesehatan dengan demikian pemberdayaan masyarakat
merupakan proses sedangkan kemandirian merupakan hasil, karenanya kemandirian
masyarakat dibidang kesehatan bisa diartikan sebagai kemampuan untuk dapat
mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat, kemudian
merencanakan dan melakukan cara pemecahannya dengan memanfaatkan potensi
setempat tanpa tergantung pada bantuan eksternal atau dari luar.
Pemberdayaan
masyarakat meliputi bagaimana menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat,
menumbuhkan dan atau mengembangkan peran serta masyarakat, mengembangkan
semangat gotong royong dalam pembangunan kesehatan, bekerja bersama di
masyarakat, menggalang kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan
organisasi kemasyarakatan lainnya yang ada di Desa/Kelurahan serta penyerahan
pengambilan keputusan sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat. Strategi pemberdayaan masyarakat yaitu meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, meningkatkan kesadaran
masyarakat sebagai salah satu bentuk pengejewantahan pendidikan, komunikasi dan
ilmu perilaku (PKIP) untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang
telah disediakan oleh pemerintah dan tidak merusaknya, mengembangkan berbagai
cara untuk menggali dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat
untuk pembangunan kesehatan masyarakat yang sesuai dengan kultur budaya
masyarakat setempat serta mengembangkan manajemen sumber daya yang dimiliki
oleh masyarakat secara terbuka dan transparan.
Kegiatan
pemberdayaan masyarakat dilakukan di tingkat Desa/Kelurahan yang didukung oleh
semua komponen terkait di tingkat Kecamatan/Puskesmas, sesuai dengan tujuan
pemberdayaan masyarakat dalam pembentukan Desa/Kelurahan Siaga.
Hal ini akan
jauh lebih efektif ketika masyarakat diberikan arahan dan penjelasan serta
gambaran akan pentingnya suatu kegiatan dimana kegiatan itu adalah kepentingan
bersama melalui pendekatan komunikasi.
Untuk lebih
jelasnya mengenai pencapaian arah perubahan perilaku, marilah kita lihat bagan
dibawah ini:
Lingkaran atau
siklus tersebut menggambarkan bahwa perubahan perilaku akan terjadi ketika
individu mendapatkan gambaran dari efek suatu permasalahan sehingga menimbulkan
stimulus atau rangsangan ke otak hingga menimbulkan rasa penasaran untuk
berbuat dan mencobanya.
2.
Pembinaan Peran Serta Masyarakat
Adalah
salah satu upaya pengembangan yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan
pemberdayaan masyarakat melalui model persuasif dan tidak memerintah, untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku dan mengoptimalkan kemampuan
masyarakat dalam menemukan, merencanakan dan memecahkan masalah. Pembinaan
lokal merupakan serangkaian langkah yang diterapkan guna menggali potensi dan
minat masyarakat menyangkut pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
meningkatkan dan mengarahkan peran serta masyarakat setempat dalam menata hidup
sehat dan produktif.
3.
Pemberdayaan Keluarga
Adalah
salah satu upaya yang bersifat tidak memerintah guna meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan keluarga agar mampu mengidentifikasi masalah, merencakan dan
mengambil keputusan untuk melakukan pemecahannya dengan benar, tanpa atau
dengan bantuan dari pihak lain. Pemberdayaan keluarga dibidang kesehatan akan
menghasilkan kemandirian keluarga dalam menemukan masalah kesehatan yang ada
dalam keluarga, kemudian mampu merencanakan dan mengambil keputusan untuk
memecahkan masalah kesehatannya sendiri tanpa atau dengan bantuan orang lain.
Salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menghasilkan kemandirian di
bidang kesehatan baik pada masyarakat maupun keluarga adalah melalui pendekatan
komunikasi-informasi-edukasi (KIE).
Strategi
dalam Identifikasi masalah kesehatan
Langkah
awal yang dilakukan dalam penggerakan pemberdayaan masyarakat untuk membentuk
dan mengembangkan Desa/Kelurahan Siaga adalah identifikasi masalah kesehatan
dengan menitik beratkan pada masalah penyakit, lingkungan dan perilaku.
Identifikasi masalah kesehatan dapat dilakukan melalui cara survailans atau pengumpulan
data sekunder di Puskesmas dan kantor Desa/Kelurahan setempat atau melalui
pengumpulan data dengan metode observasi partisipatif, diskusi kelompok terarah
dan survei/kunjungan rumah dengan menggunakan kuesioner.
Informasi
yang diperlukan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan adalah sebagai berikut
:
• Penyakit/nama penyakit
• Penyebab penyakit menurut Puskesmas
• Penyebab penyakit menurut masyarakat
• Perilaku masyarakat yang dapat mengakibatkan sakit
• Perilaku masyarakat yang bisa mencegah timbulanya penyakit
• Lingkungan yang menyebabkan timbulnya penyakit
• Lingkungan yang bisa mencegah timbulnya penyakit
• Cara mencegah agar orang tetap sehat dan tidak sakit
• Cara mencegah agar penyakit tidak menular
• Apa yang bisa dilakukan oleh tiap keluarga agar terhindar dari
penyakit
• Apa yang bisa dilakukan oleh pemuka masyarakat agar wilayahnya
terhindar dari penyakit.
SARAN
Salah satu program pemerintah dalam
bidang kesehatan adalah menuju tatanan Indonesia sehat 2010 yang telah berlalu
dan dianggap “gagal total” hingga berubah menjadi Indonesia sehat 2030. Oleh
karena itu, untuk mencapai sasaran tersebut salah satunya adalah dengan
pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis lokal karena mustahil tujuan dalam
tatanan Indonesia sehat akan tercapai tanpa tahap yang lokal. Tahap lokal yang
penulis maksud disini adalah sehat mulai dari Mikro - Makro seperti sehat dari lingkungan
keluarga, RT/RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi/Kota.
Ketika semua elemen tersebut sudah sehat, maka secara otomatis terciptalah
Masyarakat dalam tatanan Indonesia sehat, yang selalu didambakan.
Beranjak dari hal tersebut diatas, sejauh
apapun pencanangan program pemerintah tanpa dukungan, kesadaran dan partisipasi
masyarakat, maka hanya akan menjadi program buram dan yang tak akan pernah
menunjukkan eksistensinya dan hanya akan menjadi wacana dalam masalah yang tak
kunjung usai. Dan saking ironisnya, anggaran APBN untuk kesehatan semakin
terkikis dan inflasi pinjamin luar negeri pun makin menggurita hingga
keterpurukan dalam satu sistem, bias dengan sistem yang lain yang mengakibatkan
suatu permasalahan yang multifaktorial.
Langganan:
Postingan (Atom)

